27 Mei 2009

Mengapa Kita Perlu PR?

Pertanyaan ini wajar muncul di benak kita, karena menyangkut manfaat yang bisa kita dapat dari PR. Dan untuk menjawabnya, maka kita harus bertolak dari pemahaman bahwa PR tidak lain ialah sebuah bentuk kegiatan komunikasi.

Sebagaimana diketahui, manusia merupakan mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Ia hidup dalam kelompok-kelompok & bermasyarakat dengan manusia lain -- baik dalam lingkup yang kecil seperti keluarga, maupun dalam lingkup yang besar seperti kampung, kota, negara bahkan dunia. Dalam menjalani kehidupan berkelompok & bermasyarakat, maka terjadi proses hubungan atau komunikasi diantara mereka. Proses komunikasi ini terjadi baik diantara individu dengan individu, diantara individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok yang lain.

Persoalannya, proses komunikasi yang berlangsung dalam masyarakat sering diwarnai oleh adanya kecurigaan, prasangka, bahkan pertentangan satu sama lain akibat adanya berbagai perbedaan dalam hal kebutuhan, keinginan, sifat, tabiat, pandangan hidup, kepercayaan, aspirasi, dan sebagainya. Itulah sebabnya, masing-masing individu atau kelompok dalam masyarakat selalu membutuhkan suatu "resep" mereka agar bisa menjalin hubungan dengan siapa saja yang terkait dengan kelangsungan hidupnya secara lebih harmonis berdasar saling pengertian & saling percaya satu sama lain. 

Resep inilah yang dalam perkembangannya kemudian disebut dengan Public Relations, sehingga tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa setiap manusia pada dasarnya pasti memerlukan PR, sebab setiap manusia pasti memerlukan jalinan komunikasi yang harmonis atas dasar saling pengertian & percaya dengan siapa saja yang secara langsung atau tidak langsung memiliki kaitan dengan kelangsungan hidupnya. Dan PR merupakan suatu bentuk kegiatan komunikasi yang dimaksudkan untuk menciptakan saling pengertian & percaya yang menjadi dasar bagi terciptanya hubungan harmonis itu.

Pada konteks pelaksanaan kegiatan PR dalam suatu lembaga atau organisasi, maka hal ini -- sebagaimana sudah disinggung di muka -- dimaksudkan untuk menciptakan saling pemahaman diantara lembaga atau organisasi tersebut dengan publiknya. Adapun wujud dari adanya saling pemahaman itu tidak lain ialah terbentuknya citra (image) yang mendukung (favourable) terhadap lembaga atau organisasi tempat PR itu berada.
Terkait hal ini, maka satu hal perlu diingat -- yaitu bahwa di dalam kata "relations" terkandung makna "dua belah pihak". Artinya, meski bekerja untuk kepentingan organisasi, tapi tujuan PR harus tetap merupakan sesuatu yang netral, atau bersifat katalisator bagi tercapainya tujuan organisasi maupun tujuan publiknya.

Kelangsungan hidup suatu lembaga atau organisasi amat bergantung pada ada atau tidaknya penerimaan serta dukungan dari publiknya. Publik akan dengan serta merta memberi dukungan yang dibutuhkan itu hanya jika tujuannya sendiri terpenuhi.

Hal ini berarti bahwa tujuan PR tidak bisa diterjemahkan sebagai tujuan organisasi secara sepihak yang dicapai dengan mengorbankan tujuan publik. Justru sebaliknya, tujuan PR harus mengacu pada upaya tercapainya kepentingan bersama sebab organisasi harus & hanya akan bisa mencapai tujuannya jika ia mau & mampu memberi dukungan kepada publik agar bisa mencapai tujuannya. Inilah yang disebut dengan prinsip simbiosa mutualisme dalam pelaksanaan PR dalam suatu organisasi.

Tanpa dukungan publik, suatu organisasi tidak dapat tumbuh optimal & bahkan justru akan tertelan hukum entropi menuju kehancuran. Karena itu, pelaksanaan PR sebenarnya sejalan dengan pelaksanan prinsip demokrasi -- yang menempatkan pemerintah sebagai "pelayan" bagi rakyatnya; menempatkan karyawan, konsumen, distributor, pemasok & komunitas sekitar sebagai "raja-raja" yang harus dipenuhi kebutuhannya oleh perusahaan; serta menempatkan mahasiswa, dosen & karyawan sebagai "tuan" bagi universitas.

Karena itu, kegiatan PR hanya akan bisa berhasil jika dilandasi oleh suatu niat baik atau good will demi kepentingan bersama, bukannya justru memanipulasi hati nurani demi keuntungan sesaat. Jika diibaratkan, kegiatan PR-ing bukanlah seperti "buah semangka", yang luarnya hijau tapi dalamnya merah, sebab kegiatan ini justru harus digunakan untuk tujuan-tujuan yang mulia demi kepentingan bersama.

Tidak ada komentar: