26 Mei 2009

Ngawurnya Reporter Yang Beralih Profesi Jadi PR

Public Relations atau biasa disebut PR (baca Pi Ar), tentu bukan istilah asing bagi anda. Banyak lembaga, organisasi atau badan -- baik berorientasi profit maupun non profit -- bahkan individu kini menjalankan aktifitas ke-PR-an (PRing) secara lebih sistematis dibanding beberapa waktu lalu.

Tidak heran, pelatihan -- bahkan pendidikan -- di bidang PR belakangan makin menjamur. Bahkan, PR juga telah berkembang menjadi salah satu profesi yang banyak diminati, sehingga tidak sedikit mereka yang sudah bekerja dan menekuni suatu profesi tertentu, lantas beralih terjun ke dunia PR.

Saya termasuk dalam kelompok yang terakhir itu. Sudah hampir 15 tahun saya beralih profesi dari reporter di sebuah stasiun tv swasta menjadi PR praktisioner.

Semula saya beranggapan tugas PR itu tak lebih dari sekedar menjadi "reporter lokal" yang memasok kebutuhan berita untuk media internal maupun media eksternal (baca media massa) bagi kepentingan perusahaan atau organisasi tempat saya bekerja. Persepsi sempit inilah yang mendorong saya nekat menerima tawaran menjadi PR di salah satu PT di Surabaya saat itu.

Apalagi stasiun tv tempat saya bekerja sedang bersiap hijrah dari Surabaya ke Jakarta, satu hal yang amat berat bagi saya waktu itu. Sementara opsi menjadi koresponden atau reporter di biro lokal saat itu belum tersedia.

Menjadi "reporter lokal"? Ah ... pasti saya mampu melakukannya! Bukankah itu berarti saya tetap akan berurusan dengan persoalan nilai berita (news values), satu hal yang sudah jadi makanan saya sehari-hari; bahkan sejak saya masih jadi pengelola majalah kampus Retorika di FISIP Unair serta reporter di sebuah radio swasta di saat-saat akhir kuliah dulu!

Bedanya (pikir saya waktu itu) paling hanya terletak pada bagaimana memaknai news values itu sendiri. Sebagai reporter sesuatu dipandang memiliki news values tinggi jika hal itu dinilai menarik atau penting di mata khalayak tanpa

bersinggungan Itulah yang Kalau memang seperti lalu, mePendek kata, PR kini telah berkembang menjadi salah satu profesi yang banyak diminati para pencari kerja. Tapi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan PR? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini, mengingat begitu banyaknya rumusan mengenai PR yang berkembang di masyarakat selama ini. Tapi dari sekian banyak rumusan itu, beberapa diantaranya mungkin bisa kita pakai sebagai rujukan. 

Rumusan yang dikemukakan oleh John E. Marston misalnya. Dalam bukunya Modern Public Relations (1979), ia merumuskan PR sebagai " ... planned, persuasive communication designed to influence significant public ... " ( ... komunikasi persuasif yang terencana, dirancang untuk mempengaruhi publik tertentu ... ). Atau rumusan The British Institute of Public Relations (BIPR), yang menyatakan PR sebagai " ... the deliberate, planned and sustained effort to establish and maintain mutual understanding between an organization and its publics" ( ... upaya terus menerus yang terencana dengan tujuan untuk membangun dan memelihara saling pengertian diantara organisasi dengan publiknya).

Begitu pun rumusan dari International Public Relations Association (IPRA), yang menyatakan PR sebagai " ... management function of a continuing and planned character through which organizations seek to win and retain the understanding, sympathy and support of those with whom they are or may be concerned -- by evaluating public opinion about themselves, in order to correlate, as far as possible, their own policies and procedures, to achieves by planned and widespread information more productive cooperation and more efficient fulfillment of their common interests" ( ... fungsi manajemen yang berlangsung secara terus menerus dan terencana, melalui mana organisasi berusaha menjalin dan memelihara saling pengertian, simpati, serta dukungan terhadap dirinya -- maupun kebijakan-kebijakan dan langkah-langkahnya -- guna mencapai kerjasama yang lebih produktif dan efisien demi kepentingan bersama).

Rumusan yang kurang lebih sama juga pernah dihasilkan dalam pertemuan organisasi PR dari 20 negara di Meksiko tahun 1978, yang menyatakan PR sebagai " ... the art and social science of analyzing trends, predicting their consequences, counseling organizations leaders, and implementing planned program of action which serve both organizations's and the public interest ..." ( ... suatu seni sekaligus disiplin ilmu sosial yang menganalisa berbagai kecenderungan, memprediksi konsekuensi dari setiap kegiatan, memberi masukan dan saran-saran kepada para pemimpin organisasi, serta mengimplementasikan program-program tindakan yang terencana untuk melayani kepentingan organisasi dan khalayaknya).

Masih banyak sebenarnya rumusan yang pernah dikemukakan oleh para pakar, praktisi maupun lembaga terkait dari seluruh dunia mengenai PR. Tapi dari beberapa rumusan utama di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa PR sebenarnya tidak lain merupakan kegiatan komunikasi, yang dilakukan oleh organisasi terhadap publiknya, secara terencana dan berkesinambungan, dengan maksud untuk menciptakan saling pengertian dan saling percaya diantara keduanya.

Tidak ada komentar: